Oktober 16, 2019

Rayakan Ulang Tahun, Rektor Unhas Makassar Berdoa di Masjid Quba Buton

TALOMBONEWS.COM | BAUBAU — Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof.Dr. Dwia Ariestina Pulubuhu, MA punya cara tersendiri merayakan hari ulang tahunnya. Wanita kelahiran Tanjung Karang Lampung 19 April 1964 ini memilih merayakan ulang tahunnya dengan cara shalat dan berdoa di salah satu Masjid tertua dan beresejarah di tanah Buton yaitu Masjid Quba kota Baubau, Jumat (19/4/2019).

Begitu tiba di Bandar Udara Betoambari Baubau sekitar Pukul 13.00 Wita, orang nomor 1 di Unhas ini segera menuju ke kawan Benteng terluas di dunia yaitu Benteng keraton Wolio Buton. Di kawasan ini ada 2 (dua) masjid kuno dan bersejarah Buton yaitu masjid Agung Keraton Wolio dan Masjid Quba.

“Awalnya kami mengira beliau akan mengunjungi masjid Agung Keraton Buton dan menikmati pemandangn indah Benteng Keraton Buton. Ternyata beliau memilih shalat dan berdoa di Masjid Quba.” Ujar Dr. Tasrifin Tahara, salah seorang Dosen Unhas asal Buton yang ikut mendampingi Prof. Dwia Aries Tina Pulubuhu.

Setibanya di Masjid Quba, Rektor Unhas Prof. Dwia dan suami langsung melaksanakan shalat tahyatul masjid. Setelah itu melaksanakan shalat dhuhur dan berdoa. Beliau tampak khusyu berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT untuk diberi umur yang panjang dan berkah, kesehatan serta dikokohkan imannya dalam islam.

“Alhamdulillah hari ini saya bisa shalat dan berdoa di masjid bersejarah ini. Selama ini saya hanya mendengar kisah tentang masjid bersejarah ini dari suami saya yang setiap kali mengunjungi kota Baubau menyemaptkan diri untuk shalat dan berdoa di masjid ini.” Ujar Prof Dwia.

Rektor Unhas, Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu, Rektor Unhas Ulang Tahun, Masjid Quba Buton

Rektor Unhas, Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA didoakan oleh perangkat Masjid Quba Buton, Jumat (19/4/2019) | Talombonews.com – Mul

Usai shalat dan berdoa, Prof Dwia dan sang suami tercinta, H.M Natsir Kalla ikut mengantri untuk didoakan oleh Hukumu alias perangkat Masjid Quba Buton. Kebetulan hari itu bertepatan dengan hari Jumat.

Usai shalat jumat, masyarakat Buton yang punya niat spesial  biasanya punya tradisi untuk minta didoakan oleh para perangkat Masjid Quba atau lazim disebut Hukumu. Perangkat Masjid atau Hukumu ini terdiri atas  Imam, Khatib dan Moji.  Mereka mengenakan  jubah dan sorban putih.

“Tradisi doa seperti ini biasanya berlangsung usai shalat Jumat. Jadi usai shalat jumat, para Hukumu tidak langsung pulang melainkan berdoa lebih dulu bagi keselamatan bangsa dan masyarakat. ” kata salah seorang Dosen Unhas asal Buton, Dr. Musran Munizu yang ikut mendampingi Rektor Unhas.

Tradisi mendoakan keselamatan bangsa dan masyarakat ini biasa disebut Bentengiana Lipu. Setelah prosesi doa Bentengiana Lipu ini usai barulah digelar doa untuk masyarakat. Mereka yang hendak didoakan maju satu persatu secara bergiliran minta didoakan oleh para Hukumu.

Pada hari itu, ada 4 (empat) orang yang antri didoakan  termasuk Prof. Dwia dan suami. Sebelum didoakan, salah seorang Moji meminta Prof. Dwia dan Suami untuk menuliskan namanya di atas secarik kertas. Setelah itu, salah seorang Moji memohon izin kepada sang Imam  Masjid untuk mendoakan Prof. Dwia yang hari itu berulang tahun ke-55.

Setelah sang Imam mengizinkan, barulah prosesi doa dimulai. Prosesi Doa tidak dipimpin oleh sang Imam melainkan oleh  salah seorang Moji yang memang secara khusus diberi tugas memimpin doa. Prosesi doa tersebut berlangsung secara khusyu dan sakral.

Usai berdoa, adik ipar Wapres H.M Jusuf Kalla ini tampak mengunjungi maka sejumlah Sultan Buton yang terletak di samping Masjid Quba. Salah satunya adalah Makam Sultan Buton ke-29, Sultan Muhammad Idrus Qaimuddin yang memerintah pada tahun 1824-1850.

Sultan Muhammad Idrus adalah pendiri Masjid Quba. Masjid ini didirikan pada tahun 1838. Di masa pemerintahannya,  Sultan Muh. Idrus Qaimuddin  mengeluarkan aturan yang mewajibkan seluruh masyarakat Buton terutama kaum pria untuk shalat wajib di Masjid atau Mushallah. JIka ada seorang pria baligh dan tak memiliki uzur kedapatan tak shalat di masjid maka akan diberi hukuman oleh Sarah atau perangkat hukum kerajaan.

Selain dikenal sebagai sosok pemimpin yang adil, Sultan Muh. Idrus Qaimuddin juga dikenal sebagai salah satu Cendekiawan Muslim, Sufi sekaligus Guru Tarekat terkenal di nusantara. Hal tersebut dapat dilihat dari karya tulis atau kitab tarekat dan ajaran islam yang ia hasilkan semasa hidunya.

Tidak kurang dari 30 karya tulis atau kitab yang ditulis oleh Sultan Muhammad Idrus Qaimuddin semasa hidupnya. Ada yang ditulis dalam bahasa Wolio Buton dan ada yang ditulis dalam Bahasa Arab gundul. Beberapa diantaranya adalah Bula Malino, Nuuru Molabhina, Jaohari Maanikamu, Suraajul Muttaqin dan Kasyaful Hijab fi Muraqabat al-Wahhab.

Kitab atau karya tulis Sultan Muhammad Idrus Qaimuddin hingga kini masih banyak dibaca dan dijadikan acuan pembelajaran nilai-nilai agama dan kearifan lokal oleh masyarakat Buton terutama karya-karyanya yang berbentuk syair tradisional atau lebih dikenal dengan sebutan Kabhanti.

Boleh jadi, inilah salah satu alasan yang mendorong Guru Besar Sosiologi Unhas ini memilih masjid yang didirikan oleh Ilmuan sekaligus Sufi Buton ini sebagai tempat untuk berkontemplasi dan bermunajat kepada Allah SWT agar senantiasa diberi umur yang panjang dan berkah, kesehatan, rezeki yang halan serta keteguhan iman dalam menapaki hidup. Merahnews.com | Mul

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan