Desember 5, 2019

Sekilas Tentang Isra Mi’raj Nabiullah Muhammad SAW

Setiap tanggal 27 Rajab Tahun Hijriah, masyarakat muslim nusantara memperingati salah satuperistiwa penting dalam sejarah kehidupan manusia paling agung, Muhammad SAW yaitu Isra Mi’raj. Dalam bahasa Arab, kata Isra berasal dari kata Saro yang berarti pejalanan di malam hari. Maksudnya, perjalanan di malam hari dari Masjidil Harram di Makkah menuju ke Baitul Maqdis ( Masjidil Aqsha) di Palestina. Sementara kata Mi’raj diartikan sebagai sarana atau tangga khusus yang digunakan untuk menuju ke atas langit yaitu dari Baitul Maqdis naik ke langit (Sidratul Muntaha).

Saking pentingnya peristiwa Isra Mi’raj ini, sampai-sampai Allah SWT mengabadikan persitiwa ini dalam Al-Qur’an Surah Al-Israh ayat 1 yang artinya sebagai berikut:

Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesarn) Kami. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS, Al-Isra:1).

Kisah detail tentang peristiwa ini juga terekam dalam sejumlah kitab Hadits Shahih seperti Kitab Shahih Bukhari nomor 2968 dan 3598 dan Muslim nomr 162-168.

Salah seorang penulis sejarah kehidupan Nabiullah Muhammad SAW, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri (2001:197) menulis sebagai berikut:

Ibunul Qayyim berkata, Menurut riwayat yang shahih bahwa Rasulullah SAW diisra’kan dengan jasadnya dari Masjidil Haram menuju Baitul Maqdis dengan mengendarai al-Buraq, ditemani oleh Jibril. Lalu beliau singgah di sana dan shalat bersama para Nabi sebagai imam, lalu menambatkan Al-Buraq pada gelang pintu masjid.

Usai shalat 2 (dua) rakaat, Nabiullah Muhammad keluar dan langsung disambut Malaikat Jibril yang membawa dua bejana; satu berisi khamar dan satunya lagi berisi susu. Jibril lantas menawrkannya kepada Muhammad SAW. Rupanya Rasulullah lebih memilih bejana berisi susu.

“Engkau telah memilih yang sesuai fitrah,” kata Jibril.

Usai meminum susu yang disuguhkan oleh Jibril, malam itu juga Nabiullah Muhammad SAW di-Mi’raj-kan dari Baitul Maqdis menuju ke langit tingkat pertama dengan ditemani Jibril. Begitu tiba di pintu langit pertama, Jibril menyampaikan salam dan mohon dibukakan pintu langit.

Sang tuan rumah lantas bertanya, “Siapa Anda ?”
Aku Jibril.
Lantas, Siapa yang bersama Anda ?
Jibril menjawab, Dia Muhammad.
Apakah dia telah diutus ?
“Ya, Dia telah diutus.” jawab Jibril.

Saat itu juga, pintu langit pertama terbuka. Nabiullah Muhammad langsung disambut oleh Nabi Adam AS. Nabi Adam AS lantas memberikan kesaksian atas kenabian Muhammad dan mendoakan kebaikan bagi Muhammad SAW.

Usai bertemu nabi Adam AS di langit pertama, Jibril dan Muhammad melanjutkan perjalanan ke langit tingkat kedua. Setibanya di langit kedua, Jibril menyampaikan salam dan mohon dibukakan pintu langit kedua. Jibril mendapat pertanyaan yang sama seperti di langit tingkat pertama. Setelah tau bahwa yang datang bersama Jibril adalah Muhammad maka pintu langit kedua terbuka. Muhammad disambut dan bertemu dengan Nabi Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariyah. Keduanya juga memberikan kesaksian atas kenabian Muhammad dan mendoakan keselamatan untuk Nabi Muhammad SAW.

Jibril dan Muhammad lantas melanjutkan perjalanan menuju ke langit ketiga. Di langit ketiga, Jibril juga disambut dengan pertanyaan yang sama seperti di langit pertama dan kedua. Jibril juga memberikan jawaban yang sama. Pintu langit ketiga pun terbuka. Nabi Muhammad langsung disambut oleh Nabi Yusuf yang berwajah ganteng. Nabi Yusuf lantas mendoakan kebaikan kepada Nabi Muhammad SAW.

Dari langit ketiga, Jibril dan Muhammad lantas menuju ke langit keempat. Seperti di langit sebelumnya, Jibril terlebih dahulu menyampaikan salam dan memperkenalkan Muhammad kepada penghuni langit keempat. Setelah diizinkan masuk, Muhammad pun masuk dan disambut oleh nabi Idris. Nabi Idris lantas bersaksi dan mengakui kenabian Muhammad SAW serta medoakan kebaikan kepada Rasulullah SAW.

Setelah didoakan oleh nabi Idris, Jibril dan Muhammad kembali diperjalankan (Mi’raj) menuju ke langit kelima. Di langit kelima ini, nabi Muhammad disambut oleh nabi Imran. Imran AS lantas memberi kesaksian atas kenabian Muhammad SAW dan sekaligus mendoakan kebaikan kepada Muhammad SAW.

Dari langit kelima, Jibril dan Muhammad selanjutnya Mi’raj ke langit keenam. Di sini Nabi disambut oleh Nabi Musa bin Imran. Seperti nabi-nabi yang ditemui di langit sebelumnya, Nabi Musa AS juga memberikan kesaksian dan mendoakan keselamatan kepada Nabiullah Muhammad SAW.

Setelah didoakan oleh Nabi Musa AS, Jibril dan Muhammad SAW melanjutkan perjalanan menuju ke langit ketujuh. Saat keduanya berlalu, Nabi Musa AS meneteskan air mata. Saat ditanya mengapa dirinya menangis ? Musa AS menjawab, ‘Aku menangis karena ada seorang yang diutus setelahku yang jumlah ummatnya yang masuk surga lebih banyak dai ummatku.’

Malaikat Jibril dan Muhammad SAW kembali diperjalankan (Mi’raj) ke langit ketujuh. Di langit ketujuh, Muhammad SAW disambut oleh kakek buyutnya yaitu Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS memberikan kesaksian atas kenabian Muhammad SAW. Beliau juga mendoakan kebaikan kepada Muhammad SAW.

Usai bertemu Nabi Ibrahim di langit ketujuh, Muhammad diantar menuju ke Sidratul Muntaha bertemu sang Maha Agung lagi Maha Perkasa, Allah swt. Nabiulah Muhammad SAW lantas mendekatkan dirinya kepada sang Khalik hingga hampir sejarak dua busur atau lebih dekat lagi.

Di saat itulah Allah SWT mewahyukan kewajiban shalat bagi Muhammad SAW dan ummatnya sebanyak 50 kali sehari semalam. Usai menerima wahyu tersebut, Muhammad balik kembali.

Saat melewati langit keenam, beliau bertemu kembali Nabi Musa AS. Musa AS bertanya ke Muhammad perihal perintah Allah SWT kepadanya. Nabi menjawab bahwa dirinya diperintahkan untuk shalat 50 kali sehari semalam.

Mendengar jawaban tersebut, Musa AS langsung berkata, ‘Ummatmu pasti tak sanggup melakukan itu. Kembalilah ke Rabbmu dan mintalah keringanan untuk ummatmu.’

Nabiullah Muhammad lantas melirik ke arah Jibril seakan meminta pendapatnya atas usul Nabi Musa tersebut. Jibril tampak memberikan isyarat setuju. Jibril pun kembali mengantar Muhammad bertemu Allah yang Maha Suci dan Maha Agung.

Rupanya Allah swt mengabulkan permohonan Muhammad SAW. Kewajiban 50 kali waktu shalat dikurangi menjadi 10 kali waktu shalat. Muhammad pun kembali. Setibanya di langit keenam, ia kembali bertemu nabi Musa AS. Nabi Musa rupanya penasaran dengan respons Allah SWT atas usulan yang disampaikannya ke Muhammad SAW.

Muhammad menjawab bahwa Allah SWT telah mengabulkan permohonannya dan berkenan mengurangi beban kewajiban shalat bagi ummatna dari 50 kali shalat menjadi 10 kali shalat dalam sehari semalam.

Mendengar jawaban tersebut, Nabi Musa kembali mengusulkan kepada Muhammad SAW untuk kembali lagi menghadap Allah SWT agar mendapat lagi keringanan. Soalnya, berdasarkan pengalamannya dalam menyampaikan perintah Allah kepada ummatnya, banyak ummat Nabi Musa yang merasa berat menjalankan perintah Tuhan.

Jibril dan Muhammad kembali ke Sidratul Muntaha menghadap dan memohon keringanan dari Allah SWT. Sang Maha Pemurah dan Pengasih itu langsung mengabulkan permohonan Muhammad SAW. Kewajiban shalat yang tadinya sebanyak 10 kali sehari-semalam dikurangi menjadi hanya 5 kali sehari semalam.

Setelah mendapat keringanan dari Allah SWT, nabiullah Muhammad SAW segera kembali. Namun setibanya di langit keenam, Nabi Muhammad SAW lagi-lagi bertemu nabi  Musa AS. Nabi Musa kembali bertanya soal jawaban Allah SWT atas permohonan keringanan  frekuensi waktu shalat. Muhammad menjawab bahwa Allah SWT telah mengabulkan permohonannya dan berkenan mengurangi kewajiban shalat bagi ummat muslim dari 10 kali sehari semalam menjadi hanya 5 kali sehari-semalam.

Rupanya nabi Musa AS masih menganggap kewajiban shalat 5 waktu tersebut masih terasa berat bagi ummat Muhammad sehingga beliau meminta Muhammad kembali menghadap sang Maha Agung dan Maha Perkasa untuk meminta keringanan. Namun Muhammad SAW hanya menjawab:

‘Sungguh Aku malu pada Rabbku. Aku rela dengan hal ini dan menerimnya.’

Lantas Jibril dan Muhammad SAW berpamitan kepada Musa AS. Setelah menjauh dari langit keenam, terdengarlah suara menyeru:
“Aku telah membelakukan fardhu-Ku dan telah memberikan keringanan kepada para hamba-Ku.”

Demikianlah, sejak peristiwa Isra Mi’raj tersebut ummat islam diwajibkan shalat 5 kali sehari semalam.Talombonews.com | Abu Arib

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan