Desember 5, 2019

Guru dan Murid

Oleh: Haji La Afa

Dalam perwayangan dicetitakan bahwa ada seorang Mahaguru bernama Durna. Ia merupakan seorang guru spritual yang cukup tinggi ilmunya. Namun memiliki niat yang tidak baik terhadap murid nya yang bernama Bima.

Niat yang tidak baik tersebut dikemas dalam bentuk pengajaran terhadap muridnya ini. Namun sang murid ( Bima) adalah seorang murid yang patuh dan tulus dalam menerima pelajaran dari sang Guru. Bima ditugaskan untuk kembali menuntut ilmu yang harus dijalankan sebagai laku Semedi ( bertapa) untuk mencari sebuah Sarang Angin yang letaknya berada di tengah hutan Reksa Muka. Hutan Reksa Muka merupakan gambaran bagi ahli Spiritual yang menjadi tempat nafas yang ada pada dirinya sendiri…yaitu tempat Napas yang hakiki yaitu nafas, nufis, kemudian Tanaffas Anfas yang maksudnya carilah di mana letak nafasmu yang sebenarnya. Yaitu berada dalm wadah (sarang) yang dekat dengan Allah ( aqrabu ilaihi min hablil warid) Allah dekat berada lebih dekat dari urat lehermu sendiri.

Bagi seorang murid yang taat tentu perintah ini adalah sesuatu yg harus dijalankan dgn tulus dan iklahs tanpa mengenal risiko. Sang guru (Durna) pun tau bahwa ilmu tadi tak mungkin bisa diperoleh oleh muridnya, Bima. Selain karena tempatnya sangat jauh juga sangat berbahaya karena di sana ada seorang Raksasa yang merupakan penjelmaan dari Bathara Bayu setelah dikutuk oleh Bethara Guru.

Tujuan sang guru tidak lain hanya ingin mencelakakan sang murid yang dianggapnya hebat. Soalnya sang guru khawatir suatu saat sang maurid dapat mengalahkan dirinya karena sang murid merupakan manusia tangguh yang sanggup menjalankan olah batin dan juga cerdas. Itulah sebabnya sang guru berniat untuk membunuhnya.

Tak disangka ternyata sang Raksana tersebut adalah penjelmaan Bethara Bayu yang notabene merupakan saudara sang Bima sendiri. Pertemuan antara Bima dan Raksasa tersebut ternyata menguntungkan sang Raksasa karena dengan pertemuan tersebut dirinya terlepas dari kutukan sehingga bisa menjelma kembali sebagai manusia yaitu Bethara Bayu. Sebagai wujud terimakasihnya maka sang Bima diberi hadiah berupa cincin yang memiliki kesaktian mandra guna.

Lalu, Bima menemui gurunya, Durna untuk melaporkan hasil pertapaannya di hutan Reksa Muka sebgaimana yang diperintahkannya. Sang guru senang sekali atas laporan tersebut karena Bima telah berhasil dan mendapatkan sebuah kesaktian dan telah memahami ilmu tentang letak dan kedudukan nafas (bayu) yaitu Roh yang berasal dari tiupan roh Ilahi.   Durna pun sadar secara rohani bahwa dirinya pun belum mampu seperti yang dilakukan muridnya, Bima.

Dasar sang guru yagn tak mau melihat kehebatan muridnya, Durna pun menyuruh Bima untuk mencari ilmu yang lebih berbahaya dari yang sebelumnya yaitu disuruh mencari Tirta Prawita (Air Suci) di tengah samudra yang paling dalam. Sang murid lantas memohon restu kapada gurunya, Durna untuk melaksanakn tugas tersebut. Sementara Durna berharap agar Bima tenggelam di dasar lautan bebas nan dalam.

Dalam menjalankn tugasnya Bima telah mengalami kesadaran spiritual tingkat tinggi yaitu menemukan hakekat dirinya yang disebut Guru Sejati yang digambarkan sebagai Dewa Ruci. Wujudnya mirip dengan dirinya (Bima) yaitu tingkat kedudukan yang tinggi. Sang Bima memahami bahwa untuk mendapatkan kedudukan guru sejati harus melalui proses yang berat yaitu dengan melawan Hawa Nafsu yang digambarkan sebagai Ular Besar.

Kisah di atas menggambarkan seorang murid yang mematuhi nasihat gurunya walau hati sang guru jahat. Sang murid tetap berusaha menjalankan tugas yang diberikan oleh sang guru dengan tulus dan rendah hati sehingga berhasil meningkatkan derajad ilmunya melebihi sang guru. Meskipun demikian, sebagai seorang murid, ia tetap menghargai dan menghormati sang guru.

Penulis adalah: Ketua DPC PPP Buton Selatan

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan