Oktober 16, 2019

Fenomena WALAPI dalam Pilwali Baubau 2018 di Mata Dr Tasrifin Tahara

TALOMBONEWS.COM | MAKASSAR — Fenomena silaturrahim politik yang digagas oleh sejumlah tokoh masyarakat yang tergabung dalam Keluarga Besar Rumpun Wajo Lamangga Pimpi atau lazim dikenal dengan sebutan WALAPI mendapat perhatian dari Dosen Departemen Antropologi Fisip Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Dr Tasrifin Tahara, M.Si

Dalam wawancara dengan Talombonews.com, Selasa malam (21/11/2017), Antropolog Politik asal Buton ini menilai fenomena dukungan pada pasangan tertentu dalam pilkada di Kota Baubau dengan adanya undangan sejumlah tokoh dan menggunakan idiom seperti WALAPI (Wajo, Lamangga, Pimpi) dapat dilihat dari pendekatan Budaya Politik orang Buton.

Pertama kata Tasrifin, fenomena seperti ini semakin menguatkan argumen ahli antropologi Geertz yang meneliti di Bali, Scoot yang meneliti di Kedah Malaysia, dan Ahimsa yang meneliti di Bantaeng Sulawesi Selatan tentang Kuatnya Politik Patronase di Asia Tenggara termasuk Kota Baubau sebagai rumpun Melayu dalam kategori penyebaran manusia di dunia.

“Hadirnya sejumlah elit atau tokoh yang membubuhkan tanda tangan undangan untuk pertemuan atau memberi dukungan pada paslon tertentu berarti mereka masih meyakini tokoh atau elit masih memiliki kharisma dan pengaruh pada klient dalam hal ini kerabatnya. Ini sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Padahal dalam konteks pilkada sekarang peran itu dimainkan oleh tim sukses sampai ke akar rumput” ujar Tasrifin.

Pendekatan kedua kata Tasrifin, ternyata kekuatan politik dengan model Kamia pada masa kesultanan masih ada hingga sekarang.

“Cuma bedanya, dulu milik aristokrat (kaomu dan walaka) sekarang justru Kamia itu dikemas dalam bentuk asal usul yang berhubungan dengan batas batas geografi atau wilayah tempat tinggal” kata pria yang sempat santer disebut-sebut bakal maju dalam pemilihan Walikota Baubau 2018.

Jadi kata Tasrifin, kalau dulu identitas dikemas dalam jargon-jargon sub sub etnik maka sekarang dikemas dalam bentuk idiom atau akrinom tempat tinggal seperti WALAPI (Wajo Lamangga Pimpi) atau WAMELABA (Waborobo, Melai Labalawa dan Baadia).

Wajo Lamangga Pimipi, WALAPI, Rossy, pemilihan walikota Baubau 2018

Surat undangan silaturrahim yang ditandatangani oeh sejumlah tokoh yang tergabung dalam Keluarga Besar Rumpun Wajo, Lamangga Pimpi (WALAPI). Foto: Isa

Menurut Ketua Prodi Magister (S2) Antropologi  Pascasarjan Unhas ini, idiom-idiom politik berbasis ruang-ruang geografis terbentuk sebagai konsekuensi demokrasi langsung sehingga kantong-kantong suara itu dimaknai dengan wilayah yang mereka tempati.

Dalam praktik politik demokrasi yang sehat dan matang hal-hal seperti itu tentu merupakan hal yang biasa dan sah-sah saja. Namun jika tidak disikapi dengan bijak dan cerdas maka bisa bersifat disfungsional dalam membangun tatanan sosial politik yang integratif di tanah Buton khususnya kota Baubau.

Wacana politik Silaturrahim Politik ala WALAPI mulai ramai diperbincangkan publik saat beredarnya surat undangan silaturrahim yang ditandatangani oleh sejumlah tokoh masyarakat yang terhimpun dalam Keluarga Besar Rumpun Wajo, Lamangga (WALAPI) untuk bersilaturrahim dengan pasangan yang disebut-sebut bakal maju dalam pemilihan Walikota Baubau 2018 yaitu Roslina Rahim dan La Ode Yasin Mazadu (Rossy).

Surat tertanggal 18 November tersebut ditandatangani oleh; Drs.H La Afi, Kolonel CZL (Purn) H. Saidoe, Mayor Pol (Purn) M Safi, Drs.H Syamsuddin Kasim, Ir. Zuhuri Machmud, Drs.H La Uze, Nasiri, S.Sos, Drs.H rahman Abdullah, Arifuddin, S.Sos, Sadikin, SH dan Faisu.

Adapun isi suratnya adalah undangan silaturrahim dengan Ibu Roslina Rahim dan Bapak La Ode Yasin Mazadu (Rossy) yang akan berlangsung pada hari Rabu, 27 November 2017 di Jalan Murhum (Depan Kediaman Bapak Drs. H La Afie) samping gedung SPP Kelurahan Wajo pada pukul 19.30 WITA sampai selesai. TALOMBONEWS.COM | ANNAHDAH

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan